PENGENDALIAN DIRI DAN ISU POLA PENGASUHAN & DISIPLIN
 

PENGENDALIAN DIRI DAN ISU POLA PENGASUHAN & DISIPLIN

PENGENDALIAN DIRI DAN ISU POLA PENGASUHAN & DISIPLIN

Tanggal : 16-Juli-2014, oleh: Ms Cinthia, category : Parenting
Komunikasi-Orang-Tua-dan-Anak1 - Parenting.jpg

Dalam mengasuh anak seringkali kita menghadapi situasi-situasi yang menuntut pengendalian diri baik dari diri kita sendiri sebagai orang tua maupun dari anak-anak kita. Terkadang kita sendiri bingung bagaimana menyikapi situasi-situasi tersebut dan tidak jarang meresponnya dengan cara yang salah.

Berikut ini adalah beberapa contoh situasi tersebut, cara menghadapinya dan pola pengasuhan serta pendisiplinan yang akan menolong kita sebagai orangtua dalam mengembangkan respon yang benar, yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan.

Anak Menggigit:

 “Saya barusan menerima laporan dari guru TK-nya. Anak saya menggigit anak lain dan mencakarnya. Apa masalahnya? Setiap orang yang bekerja dengan anak-anak suatu kali akan bertemu dengan pertanyaan seperti di atas. Anak yang menggigit bisa menjadi masalah bukan hanya karena secara langsung mempengaruhi korbannya tetapi juga orang tua kedua belah pihak. Orang tua anak yang menggigit seringkali malu dan frustasi dengan sikap agresif anaknya, sedangkan orang tua korban mungkin akan marah. Menganggap bahwa menggigit adalah normal bagi anak-anak di bawah dua tahun adalah seperti mengatakan bahwa gigi busuk itu normal. Normal hanya karena tidak ada tindakan pencegahan.

Hasil pengamatan merujuk pada rangsangan-rangsangan yang negatif dan terus-menerus dari lingkungan sekitar yang diasosiasikan dengan anak yang menggigit. Lingkungan yang bising, tidur yang tidak cukup, tidak adanya pola kebiasaan/rutinitas yang diajarkan, kurangnya aturan/batasan, dan sosialisasi yang berlebihan adalah beberapa dari penyebabnya. Sementara beberapa hal tadi berkontribusi dalam perilaku agresif anak dalam kadar tertentu, penyebab yang terakhir adalah yang paling signifikan. Anak yang menggigit tampaknya seringkali adalah bagian dari mereka yang secara prematur ditempatkan pada situasi sosial yang membuat anak menerima terlalu banyak stimulasi sosial. Jelasnya, mereka menerima sosialisasi secara berlebihan dengan ditempatkan pada terlalu banyak aktifitas kelompok. Beberapa anak tampaknya tidak dapat menerima tekanan (stress) dari “terlalu banyak anak-anak” di sekitarnya. Penempatan dalam terlalu banyak kelompok, termasuk sekolah minggu yang padat, penitipan anak, atau pesta ulang tahun yang meriah bisa membuat indera (senses) anak-anak ini kewalahan. Menggigit lalu menjadi cara pelepasan ketika anak merasa keberadaan dirinya dirampas (encroachment) atau kebutuhannya untuk self-serving tidak terpenuhi.

Satu-satunya kabar baik dari hal menggigit adalah bahwa itu bersifat sementara, meskipun bagi korbannya itu bukan sesuatu yang akan selesai dengan cepat. Perilaku menggigit akan lambat laun menghilang, namun jika tidak ditangani dengan tepat dan sedini mungkin, sikap agresif yang mendasarinya akan berubah bentuk seiring dengan pertumbuhan anak. Solusi sementaranya adalah isolasi, tapi anda masih harus menyelesaikan masalah yang mendasarinya. Ketika seorang anak menggigit, gunakan suara dan ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa menggigit itu tidak diperbolehkan. Berbicaralah dengan tegas, buatlah kontak mata dengan anak sementara anda mengekspresikan ketidak-berkenanan Anda. Si anak, tentu saja, untuk sementara perlu dipisahkan dari anak lain yang mungkin akan menjadi korbannya, tetapi solusi sesungguhnya adalah mengubah lingkungannya. Dunia anak tersebut harus dikurangi secara sosial.

Ketika mendapati perilaku menggigit, usahakan untuk membatasi aktifitas luar yang melibatkan terlalu banyak kelompok anak-anak. Ini mungkin termasuk pesta-pesta ulang tahun atau penundaan aktifitas bermain secara kelompok. Ketika mengijinkan anak anda terlibat dalam aktifitas kelompok, ibu mungkin dapat secara sukarela duduk dalam aktifitas tersebut dan mengamati si anak. Hal ini akan memberi kesempatan pada sang ibu untuk melihat apa yang menyebabkan si anak menggigit, dan sang ibu dapat campur tangan ketika dia menyadari bahwa anaknya akan menggigit. Mengatasi masalah pada tahapan bawah dua tahun dapat sekaligus menghilangkan masalah di masa-masa pra sekolah yang akan segera tiba.

Anak Mengamuk (temper tantrum)

Anda tidak dapat mengharapkan seorang anak mencapai kematangan dalam perilaku emosional lebih cepat daripada kematangan dalam bidang-bidang perkembangan yang lain. Bagaimana (cara) ia mengontrol dan mengekspresikan emosinya (perasaan-perasaannya) jauh lebih penting daripada cara dia menguasai atau mengekspresikan dirinya. Ada cara yang benar untuk mengekspresikan emosi dan ada cara yang salah. Mengamuk adalah cara yang salah. Mengamuk sering terjadi karena di masa lalu anak telah berhasil menegosiasikan konflik sebelumnya dan ia menemukan bahwa aturan orang tua tidak selalu berlaku sebagaimana semestinya. Seringkali orang tua tidak tahu harus berbuat apa dan akhirnya menyerah, yang membuat perilaku semacam itu semakin berakar kuat.

Mengatakan bahwa mengamuk adalah tahapan normal dari perkembangan anak, bahwa seiring waktu mereka juga akan meninggalkannya, menunjukkan kurangya pemahaman akan kecenderungan perkembangan perilaku buruk pada anak. Tanpa koreksi, yang ditinggalkan hanyalah perilaku menjerit dan menendang-nendang, namun sikap yang melandasi perilaku mengamuk itu masih tetap ada. Itu akan muncul lagi dan lagi selama orang tua hanya mengatasi gejala-gejalanya dan bukan penyakit yang sebenarnya. Protes yang ditunjukkan dengan perilaku menjerit dan menendang-nendang nantinya akan berkembang menjadi pelanggaran verbal (lisan) dan fisik yang serius.

Perilaku mengamuk adalah penolakan paling puncak pada otoritas orangtua. Ketika orangtua meresponnya, tujuannya tidak boleh untuk menekan emosi anak, melainkan menolong dia untuk mengendalikan diri disaat menghadapi kekecewaan dan belajar cara mengekpresikan emosinya dengan benar. Tanpa pelatihan semacam itu, dia pada akhirnya hanya akan dikuasai dorongan-dorongan emosinya. Sebagai hasilnya, orang lain mungkin akan dengan mudah memanfaatkan dia. Amsal 25: 28 memberikan peringatan: “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. Gambaran yang diberikan ayat ini sangat jelas. Orang yang tidak memiliki kendali pada dirinya sendiri adalah orang yang hartanya (pikirannya) dapat dengan mudah dirampok (dikuasai orang lain).

Anak Merengek.

Merengek-rengek adalah sebuah bentuk komunikasi yang tidak dapat dibenarkan, yang mengganggu (mengesalkan) pendengarnya jika dibiarkan begitu saja. Selain tidak menyenangkan, merengek adalah sebuah bentuk tentangan halus pada otoritas orangtua. Merengek adalah sikap yang anak pelajari, bukan merupakan tanda bahwa ada masalah emosional bawaan. Ada dua alasan mengapa anak mencoba merengek. Pertama, mereka merengek untuk memprotes sebuah perintah atau keputusan yang diberikan oleh orang tua. Karena seorang anak tidak berani secara langsung menentang ayah atau ibunya, dia akan mencoba merengek sambil setengah menangis. “Akuuuu tidaaaak maaauuuu,” mungkin akan tidak terlalu diperhatikan daripada “Nggak, aku tidak mau!” yang tentunya akan segera mendapat tindakan koreksi. Alasan kedua seorang anak merengek - singkatnya adalah karena itu berhasil. Rengekan yang terus menerus yang tidak dikoreksi dapat melelahkan seorang ibu terbaik sekalipun. Ia mungkin akan menjadi cukup frustasi dan akhirnya menyerah, tanpa mengoreksi perilaku tersebut.

POLA PENGASUHAN & DISIPLIN                                                                         

“Menyuap” anak

Alkitab mengatakan suap adalah ketidak-jujuran. Orang tua yang menyuap anak berharap dapat menukarnya dengan ketaatan. Mereka menggunakan suap, ancaman atau bahkan taktik menakut-nakuti untuk mendapatkan kendali sementara atas perilaku anak-anak mereka. Suap mungkin berbunyi seperti ini: “Kalau kamu jadi anak baik di toko hari ini, Mama akan membelikan kamu sesuatu yang special.” Sebuah contoh ancaman mungkin berbunyi: “Jika kamu tidak jadi anak baik di toko hari ini, Mama tidak jadi kasih kamu sesuatu yang Mama sudah janjikan.” Sedangkan taktik menakut-nakuti mungkin terdengar seperti ini: “Kalau kamu tidak bersikap baik di toko hari ini, Mama akan panggil panti asuhan supaya datang mengambil kamu.”

Pernyataan lisan seperti di atas memberikan motivasi yang salah dan tidak tepat dalam bersikap taat.  Dengan demikian secara tidak sadar, beberapa orangtua melatih anak-anaknya untuk taat karena suap, bukan karena ketaatan itu sendiri. Anak merespon karena ada “sesuatu” yang akan mereka dapatkan. Anak-anak memang harus diberi upah untuk ketaatan mereka, tetapi bukan sebaliknya, taat supaya mendapat upah. Perbedaan itu sangatlah penting. Apa yang terjadi jika “upahnya” tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik untuk mendorong mereka taat? Yang ada hanyalah seorang anak tidak memiliki nilai moral yang benar, baik di dalam maupun di luar dirinya.

Anak-anak dari orangtua yang suka menyuap menunjukkan beberapa karakter dan pola perilaku. Mereka mengembangkan kencenderungan berpusat pada diri sendiri dan belajar memanipulasi orang lain. Karena mereka mencari upah, mereka membatasi kemampuan mereka untuk melayani orang lain kecuali mereka menerima gratifikasi. Ciri karakter seperti ini tentu saja bukan karakteristik yang Allah inginkan untuk kita kembangkan dalam diri anak-anak kita.

Penggunaan yang benar dari upah/hadiah

Upah/hadiah bisa berupa barang konkrit (seperti sekotak permen) atau abstrak (bermain ke taman hiburan). Itu diberikan untuk memberi penguatan terhadap perilaku yang baik, bukan untuk menstimulasinya. Pujian dan dorongan lisan akan menstimulasi perilaku, tetapi tujuan dari sebuah upah adalah memberikan konfirmasi dan penguatan terhadap perilaku yang baik. Seorang ibu mungkin berkata, ”Nak, karena kamu berlaku baik di toko hari ini, Mama akan memberi kamu hadiah spesial.” Ini adalah contoh memberi upah kepada seorang anak. Sang ibu memfokuskan perhatian pada perilaku yang baik yang ditunjukkan anak di toko dan menunjukkan penghargaannya akan hal itu. Menawarkan anak-anak Anda sesuatu untuk ditukar dengan perilaku baik sebelum pergi ke toko adalah bentuk “suap” bukan upah. Itu merupakan sebuah tindakan manipulatif yang hanya akan memenuhi keinginan daging dan mata anak (1 Yoh 2 : 16a). Itu adalah suap. Anak-anak harus diberi upah untuk sebuah ketaatan, namun bukan ketaatan untuk mendapat upah.

Komponen Pendidikan dari Tindakan Koreksi:

 “Lindsey, jangan mencipratkan air ke muka adikmu,” kata Mama, hanya untuk kemudian melihat Lindsey berkeliling di sekitar kolam untuk mencari korban berikutnya. Byur-byur… Mama terkejut dan teriakannya berlanjut. Kalau saja Mama menjelaskan alasan sebenarnya di balik aksi main ciprat-cipratan air.

Tindakan koreksi menuntut penjelasan. Tanpa “mengapa” (penjelasan) sebenarnya tidak ada koreksi melainkan hanya tindakan acak untuk mengarahkan ulang perilaku lagi dan lagi. Entah tindakan anak adalah sebuah kesalahan yang kekanak-kanakan atau ketidak-taatan yang disengaja, pengajaran yang disertai dengan penjelasan selalu diperlukan. Tugas orangtua adalah untuk memberikan penjelasan lisan yang membawa anak dari tindakannya yang sekarang pada tindakan yang akan dilakukannya di kemudian hari. Apapun kesalahan anak, gunakan itu untuk mengimpartasikan pengetahuan. Jika Anda sudah berbicara dan anak tidak menangkap apa yang diajarkan, maka sebenarnya koreksi belum terjadi. Jangan tertipu. Contoh: alasan mengapa sekelompok anak tidak lagi memetik buah anggur yang belum matang bukanlah karena mereka dihukum dengan berat (dan kadang memang tidak perlu), tetapi karena mereka dibuat paham mengapa tindakan mereka salah. Pengetahuan yang sebelumnya tidak mereka miliki, akhirnya menjadi dasar dari pengendalian diri di masa depan. Seringkali, mengimpartasikan pengetahuan adalah tindakan koreksi yang dibutuhkan.

Anak-anak belajar dengan cara memperoleh pengetahuan, tapi tidak semua pengetahuan diperoleh dari buku atau ruang kelas. Kadang kita mengajar anak-anak kita tentang apa yang seharusnya tidak dilakukan dengan cara  langsung menuntun mereka berperilaku benar. Sebagai contoh: di dalam kebun sayur, ada jalan setapak dimana anak-anak dapat berjalan sambil bermain diatasnya. Meskipun begitu, kadang seorang anak umur tiga tahun berjalan keluar jalur dan karena ketidaktahuannya - menginjak tanaman. Anak ini tidak akan mengerti meskipun dikuliahi tentang pemulihan tanaman mentimun yang hancur. Pendidikan dalam hal ini difasilitasi dengan pengalaman langsung – ajak anak langsung berjalan di jalan setapak dan tunjukkan langsung di mana tempat yang boleh diinjak dan mana yang tidak boleh. Buatlah edukasi yang anda berikan tepat dengan usianya. Pastikan anda memberikannya.

Anak-anak belajar dengan beberapa cara. Kadang konsekuensi yang menyakitkan dari tindakan mereka akan menjadi guru terbaik mereka. Semisal anak anda mengabaikan perintah anda untuk tidak meloncat turun dari ayunan yang sedang berayun di udara, akibatnya mungkin anak terjatuh dan lecet atau lebam, itu adalah konsekuensi alamiah yang didapat. Hal itu mengajarkan alasan mengapa anda melarangnya. Pertimbangkan bahwa penjelasan anda tentang alasan sebuah perilaku (the why) adalah deposito untuk perilaku yang baik di kemudian hari. Sasaran anda adalah mentransfer motivasi eksternal (dari anda) untuk berperilaku benar, menjadi motivasi internal (dari dalam anak anda). Itu tidak bisa terjadi tanpa memberi penjelasan tentang alasan dari sebuah perilaku.

Membina Emosi Anak Anda:

“Anak saya yang berumur dua setengah tahun tidak suka kalau saya mengkoreksi kakaknya yang berumur empat tahun. Dia menjadi sedih karena jika kakaknya dikoreksi dan mendapat konsekuensi maka dia akan kehilangan teman bermainnya. Apa yang harus saya lakukan? tanya si Ibu. Saya berpikir akan lebih baik jika saya tidak mengkoreksi sang kakak, jika itu membuat adiknya sedih.” Setiap anak memasuki kehidupan dengan kecenderungan membawa emosi yang menyenangkan maupun yang tidak. Kebanyakan orangtua menyadari kebenaran ini dan sebagai akibatnya berusaha untuk membuat masa kecil anak-anak mereka masa yang membahagiakan. Orangtua mengenali bahwa seorang anak yang bahagia itu lebih menyenangkan, lebih mudah untuk diajar, menunjukkan periode penguasaan diri & rasa cukup yang lebih stabil & panjang. Tetapi apakah kebahagiaan sungguh-sungguh menjadi tujuan utama dari pengasuhan anak?

Salah satu dari kesalahan paling fatal yang dibuat orangtua adalah mencoba untuk “mengasuh” emosi anak dan bukan mengasuh si anak sendiri. Tolong perhatikan perbedaan ini. Kami tidak mengatakan bahwa emosi/perasaan anak tidak penting, tetapi mencoba untuk mengasuh satu kategori seperti emosi jelas tidak sama dengan mengasuh seorang anak seutuhnya. Setiap anak akan mengalami baik emosi/perasaan menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Harapannya, anak anda akan mengalami perasaan yang pertama lebih banyak dari pada yang kedua.

Pengalaman dengan emosi positif seperti sukacita, kegembiraan, rasa sayang, penghargaan dan penemuan diri mengarah kepada perasaan aman dan percaya diri. Hal ini nantinya akan menolong anak untuk menghadapi dan bereaksi dengan tepat pada emosi negatif seperti kekuatiran, cemburu, iri, takut, kecewa, cemas, dan frustasi. Tetapi mengasuh anak dengan berusaha untuk menciptakan semua emosi positif dan menghindari semua emosi negatif adalah tidak bijaksana dan tidak sehat. Usaha itu menjadikan orang tua seperti tersandera, semua adalah usaha menebak-nebak.

Ketika anda hanya berusaha menciptakan semua emosi yang baik, sebenarnya anda sedang mengesampingkan nilai-nilai penting lain yang diperlukan untuk membesarkan anak yang bisa menyesuaikan diri. Di dalam contoh di atas, sang ibu rela mengesampingkan perilaku anaknya yang besar demi memuaskan kegembiraan anak yang lebih kecil. Dia rela untuk menunda pelajaran hidup yang dibutuhkan tentang pengendalian diri yang benar, sebuah alat untuk kehidupan, hanya untuk kegembiraan yang sementara.

Jika kebahagiaan adalah hal tertinggi/terutama yang berusaha diberikan pada anak-anak, maka nilai-nilai baik lainnya seperti kejujuran, belas kasihan, pengendalian diri, rasa cukup, ketaatan, ketundukan dan kesabaran menjadi kurang penting. Jika ada konteks (situasi) di mana antara nilai kebajikan dengan rasa bahagia diadu, maka rasa bahagialah yang akan dimenangkan. Tetapi ada banyak catatan kegagalan perkembangan karena pendekatan semacam ini. Anak yang dimanjakan atau yang dilindungi dari pengalaman yang tidak menyenangkan menjadi tidak siap untuk berhadapan dengan rasa kecewa, frustasi, dan pengalaman tidak menyenangkan lainnya yang datang dalam kehidupan. Pola pengasuhan dengan mengusahakan satu jenis emosi saja atau beberapa jenis emosi yang umum adalah pengganti yang buruk dari pengasuhan anak secara menyeluruh – nuraninya (hati), pola pikir & pengetahuannya (kepala), tubuh dan emosinya.

Disadur dari: Growing Kids God’s Way (www.growingkids.org)