Gejala Flu Singapura pada Anak
 

Gejala Flu Singapura pada Anak

Gejala Flu Singapura pada Anak

Tanggal : 23-April-2014, oleh: Ms Cinthia, category : Health
flu.jpg

Flu Singapura atau yang juga disebut sebagai HMFD (Hand, Mouth, and Foot Disease) ini sangat menular dan sering terjadi selama musim kemarau. Biasanya HMFD menyerang anak usia 1- 4 tahun, namun terkadang juga dialami oleh anak-anak yang lebih besar.

 

Gejala: Diawali dengan demam sedang (di bawah 39˚c) selama 2-3 hari, yang diikuti rasa sakit pada leher dan nafsu makan berkurang. Selanjutnya, muncul sekitar 3-10 bintil kecil di dalam mulut yang menyerupai sariawan dan terasa nyeri. Akibatnya? Menyulitkan anak untuk menelan. Selain itu, pada telapak tangan, telapak kaki, dan terkadang di daerah bokong muncul ruam kemerahan atau bintil kecil yang tidak gatal. 

 

Cara penularan: Penularan virus bisa melalui udara (percikan air liur ketika bersin atau berbicara), sentuhan (cairan yang keluar dari bintil kecil pada kulit), pencernaan (sisa urin atau feses/pup yang menempel pada tangan), dan juga melalui benda lain yang terkontaminasi oleh virus.

 

Cara merawatnya: Faktor utama dalam proses penyembuhan adalah istirahat dalam jumlah cukup. Pasien umumnya akan membaik dalam waktu 7-10 hari. Yang penting, Mama memberi makanan serta cairan dalam jumlah cukup (dan multivitamin, jika perlu) untuk menguatkan imunitas tubuh anak. Kemungkinan dokter akan memberi antiseptik untuk daerah mulut, pereda nyeri dan demam, serta antivirus.

 

Pencegahan yang dapat dilakukan:

1. Menjaga kebersihan perorangan. Misalnya, rajin cuci tangan dengan menggunakan sabun (terutama sebelum dan sesudah makan juga sesudah buang air besar/buang air kecil).
2. Berikan anak gizi yang cukup.
3. Pemberian ASI eksklusif hingga enam bulan dan meneruskannya hingga usia dua tahun.
4. Meski vaksinasi flu Singapura belum ada, anak tetap harus diberikan vaksinasi yang lengkap agar daya tahan anak tetap kuat.

 

Pencegahan dari Rumah

  1. Ketika anak Anda menderita flu Singapura, usahakan isolasi ia dari lingkungan rumah dan luar. “Jika sudah sekolah, jangan sekolah dulu hingga benar-benar sembuh (lesi-lesinya hilang) dan tidak bermain atau kontak fisik dengan teman juga saudara kandungnya,” jelas Bertha.
  2. Ajarkan anak untuk menutup mulutnya dengan masker, saputangan, atau tisu ketika batuk atau bersin. Percikan cairan atau ludah yang keluar dari mulutnya bisa menulari orang sekitar melalui makanan dan udara.
  3. Virus ini juga bisa menular melalui kotoran. Oleh karena itu, ketika anak usai buang air besar atau ibu membersihkan popok bayinya (yang menderita flu Singapura) segeralah mencuci tangan dengan bersih agar tidak menyebarkan virus itu ke sekitarnya.
  4. Pernyataan yang mengatakan penderita flu singapura tidak boleh terkena angin dan mandi hanyalah mitos. “Justru penderita harus mandi. Kalau tubuh penuh kuman padahal di sana terdapat banyak luka (lesi) di kulitnya, kuman itu malah akan membantu penyebaran infeksi lukanya semakin luas,” ujar Bertha. Jadi, selagi anak tidak demam tinggi, tidak masalah terkena angin dan mandi.
  5. Penyakit yang sering melanda daerah tropis dan selalu ada di sepanjang tahun ini memang biasanya timbul secara berkelompok. Misalnya di suatu sekolah ada satu anak yang menderita flu Singapura yang tanpa disadari menulari teman-temannya. “Bisa jadi lesinya pecah dan cairannya mengontaminasi meja. Tanpa sengaja meja tadi tersentuh oleh temannya yang lain. Di situlah penularan itu terjadi.” Hal inilah yang menjadi pemicu wabah flu singapura. Cara mengatasinya mudah sekali, yakni dengan meliburkan sekolah beberapa hari untuk dibersihkan dan anak-anak yang positif mengidap penyakit ini tidak bersekolah dulu hingga benar-benar sembuh.

 

Tip untuk Mama: Waspada bila muncul gejala yang cukup berat, berupa demam tinggi yang tak kunjung turun, denyut nadi menjadi cepat, sesak napas, diare yang diikuti muntah, gejala dehidrasi berat seperti lemas dan terus mengantuk, nyeri pada leher, lengan, dan kaki, kejang-kejang, muncul keringat dingin, serta gangguan kesadaran. Jika demikian, segera bawa anak ke dokter atau rumah sakit.

Sumber: www.parenting.co.id, www.tabloidnova.com